Sebuah Proses

20150119_084131Pagi itu, aku tiba-tiba bertanya,,, apa gerangan yang membawaku utuk duduk manis di kursi ini? Bergelut dengan sebuah keyboard yang masih setia mendampingi monitor di hadapanku. Terlintas di benakku untuk kembali membuka salah satu situs blog yang dulu pernah diajarkan oleh salah seorang Saudaraku yang tak sedarah. Aku memasukkan huruf dan angka yang mengantarkanku untuk bisa menjejahi ruang pribadi yang yang kupinjam ini. Yaaa,,, aku mulai merangkai kata, mengisi ruang kosong ini, seperti jalan hidup yang kupilih sekarang.

Kenapa aku berada di sini? Tempat asing yang belum pernah terlintas di benak ku. Apa ini sebuah planet rahasia yang harus ku jelajahi sendiri? Aku tiba-tiba teringat kenapa RADAR NEPTUNUS tak mampu menjangkau dan menunjukkan jalan untuk kembali ke duniaku?  Baca lebih lanjut

Iklan

Kembali

ImageSudah lama rasanya aku tak pernah menengok blog ini walau hanya sekedar mengetahui siapa yang mengintip tulisan-tulisanku di sini.

Sekitar 6 bulan yang lalu saya masih bermesraan dengan notebook dan jaringan gratis di sebuah kampus terpencil di ibu kota besar ini. Merangkai kata hingga menjadi sebuah tulisan yang terpampang jelas oleh siapapun yang mengunjunginya yang mungkin menggambarkan  perasaanku kala itu. Kadang aku rindu untuk kembali bercuap-cuap dan berlebay-lebayan dengan tulisan-tulisanku ini, tapiiiiii,,,,, begitu sulit membawa jiwaku kembali.

Baca lebih lanjut

MENGAPA AKU MENCINTAI GUNUNG

Tag

, ,

??????????Malam ini aku mendadak sangat rindu pada puncak-puncak gunung yang sunyi. Seorang kawan yang tak pernah mendaki gunung entah mengapa pagi ini membangkitkan kenanganku pada puncak-puncak gunung-gunung yang pernah aku kunjungi . Kawan itu bertanya, mengapa kau menyukai gunung? Mengapa kau lebih suka keluyuran di tengah alam bebas ketimbang berlibur ke mall-mall?

Catatan ini kupersembahkan kepadamu, kawanku yg baik, catatan lama setahun yg lalu… Aku berharap, dalam waktu dekat ini, kita akan mendaki gunung bersama-sama. Semoga

Baca lebih lanjut

KAMI MENDAKI GUNUNG KARENA KAMI MENGHARGAI HIDUP

Tag

,

naik gunung Sedikit sekali orang yang bisa memahami keadaan seseorang atau keadaan sekitarnya, jika ia tidak terjun langsung atau mengalami apa yang dirasakan seseorang dalam kehidupannya.

Pencinta Alam, itulah yang pertama kali orang katakan saat melihat sekelompok orang – orang ini. Dengan ransel serat beban, topi rimba, baju lapangan, dan sepatu gunung yang dekil bercampur lumpur, membuat mereka kelihatan gagah. Hanya sebagian saja yang menatap mereka dengan mata berbinar menyiratkan kekaguman, sementara mayoritas lainnya lebih banyak menyumbangkan cibiran, bingung, malah bukan mustahil kata sinis yang keluar dari mulut mereka, sambil berkata dalam hatinya, “Ngapain cape – cape naik Gunung. Nyampe ke puncak, turun lagi…mana di sana dingin lagi, hi… 😦  !!!!!!!” Baca lebih lanjut

AKU KAGUM

Tag

, , , , ,

Berjalan menyusuri koridor kota Jakarta. Hari itu sedikit berbeda dari hari-hari biasa yang ku lalui di kota bising ini. Sedikit lega dengan kondisi Ibu Kota ini yang tak sebising biasanya dengan kendaraan-kendaraan yang  dikendarai orang-orang tak mengindahkan aturan sama sekali. Di dalam kendaraan trans jakarta yang biasanya selalu padat namun sedikit berbeda pagi itu, hanya bersama mereka yang tak henti-hentinya membuatku kagum. Baca lebih lanjut

Sosokmu

Apa yang membuat dia berdiri di sana?Di belakang sebuah tulisan “Pecinta Alam”
Apa karena dia  telah menginjakkan kaki di titik tertinggi di  atas gunung?
Atau telah cukup perkasa untuk melakukan olahraga alam bebas?
Apakah karena dia mempunyai keanggotaan dalam suatu organisasi yang berjudul “Pecinta Alam”?
Atau apa karena dia telah hafal materi survival?
Apa sebenarnya yang kita bicarakan ini?
Sebuah julukan, gelar, atau gaya hidup?
Dari sekian banyak sosok “Pecinta Alam” itu, adakah yang mengetahu jawaban dari semua pertanyaan ini?
Atau bahkan tak ada yang peduli?
Kapan aku bisa bertemu denganmu wahai sosok “gila”?
Yang ngobrol santai sambil memainkan gitar di samping api unggun dan tenda
Yang punya nilai kebebasan dan kemandirian
Yang tak pernah  takut dengan ketinggian gunung, dalamnya lautan, derasnya hujan, dan teriknya matahari
Yang akan berteriak dengan lantang kepada penguasa Negeri ini akan hutan gundul yang terjadi
Yang lebih peduli perasaan Saudaranya
Yang badannya selalu dihiasi carrier sambil bercakap akrab dengan penduduk ketika telah  sweeping jalur mata air ke desa
Yang tergeletak di tanah bermandikan keringat setelah menanam bibit di lahan kritis
Buat aku, kamu, dan mereka
Akan kah sosok itu kutemukan?

Kebahagiaan Bersama Kemalasan

Tag

, ,

Mereka berkata tentang bahagia
Bahagia kan datang dengan bersantai ria
Bahagia datang dengan diam tak bersuara
Dengan hidup bersama keluarga
Bukan hidup di pengasingan sana
Dengan mengekor di belakang kereta
Dengan langkah yang santai adanya
Maka aku akan berkata
Hidup adalah berusaha
Bukan diam tak bernyawa
Hidup adalah perjuangan yang nyata
Bukan dengan berpangku tangan saja

Alam

Tag

, , ,

“Gunung adalah sandaran kepala, padang rumput adalah tempat mereka membaringkan tubuh, dan gua-gua adalah tempat mereka bersembunyi. Namun sejak manusia menemukan kebudayaan, yang katanya lebih “bermartabat”, alam seakan menjadi barang aneh. Manusia mendirikan rumah untuk tempatnya bersembunyi. Manusia menciptakan kasur untuk tempatnya membaringkan tubuh, dan manusia mendirikan gedung bertingkat untuk mengangkat kepalanya. Manusia dan alam akhirnya memiliki sejarahnya sendiri-sendiri.”